100 Hari Tak Turun Hujan di NTB, BMKG Sebut 76,5% Zona Musim Indonesia Alami Kemarau Ekstrem
MATARAM — Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menghadapi situasi kritis akibat kemarau panjang. Data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat wilayah ini telah mengalami 84 hari tanpa hujan, masuk dalam kategori ekstrem panjang yang memerlukan kewaspadaan tinggi.
Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah provinsi lain di Pulau Jawa dan Bali. D.I. Yogyakarta menjadi daerah dengan durasi terlama, yaitu 100 hari tanpa hujan, disusul Jawa Timur 99 hari, dan Jawa Tengah 98 hari. Sementara itu, Bali mencatatkan 82 hari dan Banten 77 hari tanpa hujan.
Dampak Kemarau Panjang bagi Sektor Pertanian dan Air Bersih
Durasi tanpa hujan yang menembus angka 80 hari lebih membawa konsekuensi serius bagi daerah agraris seperti NTB. Lahan pertanian tadah hujan dipastikan mengalami kekeringan, sementara ketersediaan air bersih untuk kebutuhan domestik mulai menipis di sejumlah wilayah.
BMKG sebelumnya telah mengingatkan bahwa puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Juli hingga Agustus. Dengan kategori HTH ekstrem yang sudah terpantau sejak awal Agustus 2026, masyarakat diimbau untuk mulai melakukan penghematan air dan mengantisipasi potensi gagal panen.
Bagaimana Kondisi di Daerah Lain?
Berdasarkan pantauan BMKG yang diunggah melalui akun Instagram resminya, terdapat sepuluh provinsi dengan durasi HTH terpanjang. Berikut rincian lengkapnya:
- D.I. Yogyakarta: 100 hari (Kabupaten Bantul, meliputi Pajangan, Pundong, Jetis, Imogiri, Bambanglipuro, Senden, dan Srandakan)
- Jawa Timur: 99 hari (Blitar), serta Madiun dan Magetan 98 hari
- Jawa Tengah: 98 hari (Wonogiri, termasuk Jatisrono, Selogiri, Karangtengah, Baturetno, dan Ngadirojo)
- Nusa Tenggara Timur: 87 hari
- Nusa Tenggara Barat: 84 hari
- Bali: 82 hari
- Banten: 77 hari
- Jawa Barat: 77 hari
- Sulawesi Selatan: 77 hari
- Maluku: 63 hari
- Kepulauan Bangka Belitung: 62 hari
Kapan Kemarau Akan Berakhir?
BMKG menyebutkan hingga awal Agustus 2026, sebanyak 76,5% zona musim di Indonesia telah memasuki periode kemarau. Masyarakat di NTB dan wilayah terdampak lainnya disarankan untuk memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG guna mengantisipasi dampak lebih lanjut, terutama terkait kebakaran hutan dan lahan.