MATARAM — Kepala BMKG Stamet Zainuddin Abdul Madjid, Tri Widiarto, menyatakan curah hujan di kawasan sirkuit diprediksi tidak ada selama tiga hari gelaran MotoGP. Kondisi langit disebut hanya akan diwarnai awan tanpa hujan.
"Untuk kegiatan MotoGP sendiri diprediksi untuk curah hujannya tidak ada. Cuacanya lebih kepada cerah berawan," kata Tri dalam keterangan persnya, Rabu (30/9).
Meski minim potensi hujan, Tri meminta penonton dan warga yang hadir langsung di sirkuit mewaspadai dampak cuaca terik. Sinar matahari saat cerah berawan bisa memicu dehidrasi dan menurunkan stamina di area yang padat.
Risiko Dehidrasi di Area Penonton yang Padat
Tri menyoroti pengaruh terik matahari terhadap kondisi fisik dan emosi penonton. Ia mengingatkan agar tidak terjadi gesekan antarpenonton akibat suhu panas.
"Terkait dehidrasi kepada penonton terutamanya dikhawatirkan nanti dengan cerah berawan ini terik matahari juga berpengaruh. Jangan sampai ada senggol-senggolan mengakibatkan terjadinya kekaosan," ujarnya.
Imbauan itu muncul karena Oktober di wilayah NTB masih berada dalam periode musim kemarau. Awal musim hujan baru diproyeksikan masuk pada akhir November 2026.
El-Nino Kuat Bikin Musim Hujan NTB Mundur 100 Persen
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, menyebut fenomena El-Nino tahun ini sangat kuat. Pasokan uap air berkurang dan durasi musim kemarau berkepanjangan.
"Karena lebih panjang musim kemaraunya otomatis datangnya musim hujan di Provinsi NTB mundur. Jadi 100 persen mundur di semua wilayah Provinsi NTB," kata Nuga, Rabu (30/9).
Biasanya musim hujan di NTB mulai berlangsung pada September. Karena El-Nino, musim hujan pada dua zona musim di NTB diprediksi masuk pada dasarian III atau akhir November 2026.
Sementara zona musim sisanya, atau 93 persen total zona wilayah, baru akan masuk Desember. Artinya hampir seluruh NTB mengalami keterlambatan awal musim hujan.
Angin Muson Timur hingga Suhu Laut Dingin Ikut Menahan Hujan
Selain El-Nino, mundurnya musim hujan dipicu pergerakan angin muson timur. Nuga menjelaskan tiupan angin dari arah timur atau wilayah Australia membawa uap air yang cenderung sedikit.
"Sehingga mengurangi potensi curah hujan di NTB," tuturnya.
Kondisi permukaan laut yang cukup dingin turut memperkecil peluang pembentukan awan hujan. Uap air berkurang, sehingga potensi hujan di daratan NTB ikut menurun.
Dengan musim kemarau yang lebih panjang, BMKG meminta masyarakat lebih awas terhadap pasokan air minum dan air untuk lahan pertanian. Potensi kebakaran hutan juga masih perlu diwaspadai.
"Sehingga masyarakat diimbau untuk hati-hati dalam menjaga lahannya tetap harus dijaga supaya tidak terjadi kebakaran," pungkas Nuga.