MATARAM — Benjamin Franklin bukan hanya politikus dan diplomat, tetapi juga penulis, penerbit, ilmuwan, dan penemu yang aktif memperjuangkan kepentingan masyarakat. Ia tumbuh dari keluarga sederhana dengan pendidikan formal terbatas sebelum akhirnya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat.

Dari Percetakan Kakak hingga Penerbit Terkenal

Pada usia 12 tahun, Franklin menjadi murid sekaligus pekerja di percetakan milik kakaknya, James Franklin. Dari dunia percetakan itulah bakat menulis dan berpikir kritisnya berkembang.

Ia kemudian menerbitkan Pennsylvania Gazette dan Poor Richard's Almanack, dua publikasi yang membuat namanya semakin dikenal di koloni-koloni Amerika. Kesuksesan sebagai penerbit menjadi fondasi karier publiknya di kemudian hari.

Mendirikan Lembaga Sosial dan Pendidikan

Franklin aktif membangun berbagai lembaga sosial di Philadelphia. Ia mendirikan kelompok diskusi Junto, Library Company of Philadelphia, perusahaan pemadam kebakaran, rumah sakit, hingga lembaga pendidikan yang kemudian berkembang menjadi University of Pennsylvania.

Baginya, pengetahuan harus digunakan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Prinsip itu yang mendorongnya terlibat dalam berbagai inisiatif publik di luar dunia bisnis dan politik.

Eksperimen Listrik dan Penemuan yang Tidak Dipatenkan

Nama Franklin juga terkenal dalam sejarah ilmu pengetahuan, khususnya penelitian tentang listrik. Eksperimennya yang terkenal dengan layang-layang membantu memperkuat pemahaman tentang hubungan antara petir dan listrik, yang kemudian mengarah pada pengembangan penangkal petir.

Selain penangkal petir, ia dikenal melalui berbagai penemuan seperti Franklin stove, kacamata bifokal, kateter fleksibel, dan harmonika kaca. Ia memilih tidak mematenkan sebagian besar penemuannya karena percaya ilmu pengetahuan seharusnya memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Peran dalam Kemerdekaan dan Diplomasi ke Prancis

Karier Franklin berkembang ke dunia politik. Ia menjadi wakil kepala kantor pos untuk koloni-koloni Amerika dan terlibat dalam perlawanan terhadap kebijakan Inggris, termasuk Stamp Act.

Ketika perjuangan kemerdekaan Amerika semakin menguat, Franklin menjadi anggota Second Continental Congress dan termasuk dalam Committee of Five yang menyusun Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Pada 1776, ia dikirim ke Prancis untuk mencari dukungan bagi perjuangan Amerika.

Diplomasi Franklin berhasil membantu Amerika memperoleh dukungan Prancis, termasuk melalui aliansi pada 1778. Ia juga terlibat dalam perundingan yang menghasilkan Treaty of Paris pada 1783 dan mengakhiri Perang Revolusi Amerika.

Menentang Perbudakan di Masa Akhir Hidup

Setelah kembali ke Amerika, Franklin menjabat sebagai Presiden Pennsylvania pada 1785 hingga 1788. Ia juga ikut dalam Konvensi Konstitusional 1787 yang menjadi salah satu tonggak penting pembentukan sistem pemerintahan Amerika Serikat.

Dalam perjalanan hidupnya, Franklin mengalami perubahan pandangan mengenai perbudakan. Ia pernah memiliki budak, tetapi kemudian menjadi penentang perbudakan dan aktif dalam gerakan abolisionis. Pada masa akhir hidupnya, ia memimpin Pennsylvania Society for Promoting the Abolition of Slavery.

Warisan 13 Kebajikan dan Pemakaman yang Dihadiri Ribuan Orang

Franklin dikenal karena gagasannya mengenai 13 kebajikan, antara lain pengendalian diri, keheningan, keteraturan, keteguhan hati, hidup hemat, kerja keras, ketulusan, keadilan, kesederhanaan, kebersihan, ketenangan, kesucian, dan kerendahan hati. Ia menjadikan kebajikan tersebut sebagai pedoman untuk membentuk karakter pribadi.

Benjamin Franklin meninggal pada 17 April 1790 di Philadelphia. Ribuan orang menghadiri pemakamannya, dan ia dimakamkan di Christ Church Burial Ground.

Hingga kini, kisah hidupnya menunjukkan bagaimana pendidikan mandiri, rasa ingin tahu, kerja keras, dan kepedulian terhadap masyarakat dapat membentuk seorang tokoh yang pengaruhnya melampaui zamannya.

Reporter: Redaksi