MATARAM — Iring-iringan pembalap melintasi Jalan Pejanggik, kawasan Perempatan Bank Indonesia, Jalan Udayana, hingga Teras Udayana. Warga dari berbagai usia berdiri di tepi jalan sejak pagi. Spanduk, sorakan, dan kamera telepon genggam memenuhi sejumlah titik di jantung Kota Mataram.
Balapan puncak akan berlangsung di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok Tengah, pada 9–11 Oktober. Rider Parade menjadi rangkaian side event menuju Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 dengan tema "Energizing Indonesia".
Lima Pembalap Turun ke Jalan Kota Mataram
Sejumlah rider yang mengikuti parade antara lain Franco Morbidelli, Fabio Di Giannantonio, Marco Bezzecchi, Máximo Quiles, dan pembalap Indonesia Veda Ega Pratama. Iring-iringan komunitas motor besar serta pelaku UMKM melalui Pasar Rakyat Mandalika di Teras Udayana turut meramaikan acara.
Di Teras Udayana, para rider berinteraksi langsung dengan masyarakat. Suasana semakin semarak ketika para pembalap ikut memukul Gendang Beleq.
Gubernur NTB: Pembalap Sebut Mandalika sebagai Homebase
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menilai penyelenggaraan tahun kelima ini menunjukkan kedekatan para pembalap dengan Mandalika.
"Setelah edisi kelima, para pembalap mengaku Mandalika sebagai homebase mereka. Kalau mereka merindukan tempat kita, maka kita harus menyukseskan MotoGP tahun ini," ujar Iqbal.
Gubernur bersama Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri dan Sekretaris Daerah NTB Abul Chair hadir langsung dalam parade. Turut hadir Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana serta jajaran perangkat pemerintah dan unsur penyelenggara MotoGP.
Atraksi Budaya Sasambo hingga Gendang Beleq Meriahkan Rute
Rangkaian atraksi budaya mengiringi parade sepanjang rute. Tarian Harmony of Sasambo yang dibawakan para pelajar membuka pertunjukan, disusul Gendang Beleq, marching band IPDN, dan musik Tongtong.
Bagi pemerintah daerah, kehadiran para rider di tengah kota menjadi kesempatan mempertemukan ajang olahraga internasional dengan masyarakat. Warga tidak hanya datang menyaksikan balapan, tetapi ikut menjadi bagian dari suasana, budaya, dan keramahan yang menyertai kedatangan para rider ke NTB.
Ketika para rider kembali menuju Mandalika, yang mereka bawa bukan hanya persiapan menuju balapan. Ada pengalaman tentang daerah yang menyambut mereka dengan masyarakat, budaya, dan keramahan yang hidup di ruang-ruang publik.