Breaking

Navi Pillay Raih Nobel Perdamaian, Israel Murka

RE
Sabtu, 10 Oktober 2026
Navi Pillay Raih Nobel Perdamaian, Israel Murka

NAVIGASI.CO.ID — Pemerintah Israel menyatakan penolakan keras atas keputusan memberikan Nobel Perdamaian kepada Navi Pillay, pengacara hak asasi manusia yang memimpin komisi PBB penyelidik dugaan genosida di Gaza. Penghargaan itu diberikan kepada Pillay atas perannya memimpin penyelidikan yang menyimpulkan Israel melakukan genosida di Jalur Gaza pada tahun lalu.

Kementerian Luar Negeri Israel menyebut keputusan komite Nobel sebagai penghargaan yang keliru karena diberikan kepada figur yang memimpin penyelidikan kontroversial terhadap operasi militer Israel di Gaza. Menurut pernyataan resmi yang dikutip kantor berita internasional, Israel menilai temuan komisi tersebut tidak berdasar dan mengabaikan hak Israel untuk membela diri.

Navi Pillay bukan nama baru dalam dunia hukum hak asasi manusia internasional. Ia pernah menjabat Komisioner Tinggi HAM PBB dan dikenal vokal mengkritik kebijakan pendudukan Israel di wilayah Palestina.

Siapa Navi Pillay dan Komisi yang Dipimpinnya

Pillay adalah seorang pengacara hak asasi manusia yang meniti karier panjang di sistem peradilan internasional. Namanya mencuat ke panggung global ketika dipercaya memimpin komisi penyelidik yang dibentuk untuk menyelidiki peristiwa di Gaza.

Komisi bentukan PBB itu menyimpulkan Israel melakukan genosida di Gaza. Temuan tersebut menjadi salah satu dokumen paling kontroversial yang dihasilkan lembaga penyelidik internasional dalam beberapa tahun terakhir.

Kesimpulan komisi memicu perdebatan tajam di forum diplomatik. Sejumlah negara mendukung temuan itu sebagai dasar akuntabilitas hukum, sementara Israel dan sekutunya menolak keras dan menyebut proses penyelidikan tidak berimbang.

Alasan Israel Menolak Penghargaan

Pemerintah Israel berargumen pemberian Nobel kepada Pillay sama dengan melegitimasi laporan yang mereka nilai cacat secara metodologi. Israel menegaskan komisi itu tidak memberi ruang memadai bagi pembelaan pihaknya selama proses penyelidikan berlangsung.

Seorang pejabat Israel menyatakan negaranya memandang penghargaan tersebut sebagai bentuk politisasi lembaga internasional. Menurut pejabat itu, keputusan komite Nobel mengabaikan konteks serangan Hamas pada Oktober 2023 yang menjadi pemicu perang di Gaza.

Israel juga menyinggung rekam jejak Pillay yang dinilai memiliki posisi lama berseberangan dengan kebijakan pemerintahannya. Sikap ini sejalan dengan pola penolakan Israel terhadap berbagai laporan lembaga PBB yang mengkritik operasi militernya.

Dukungan dan Kecaman di Tingkat Internasional

Keputusan komite Nobel menuai respons terbelah. Sejumlah organisasi hak asasi manusia menyambut penghargaan itu sebagai pengakuan atas kerja penyelidikan yang dinilai berani dan independen.

Kelompok pegiat HAM menilai penganugerahan ini memperkuat seruan agar dugaan pelanggaran hukum internasional di Gaza diusut melalui jalur peradilan. Mereka menyebut penghargaan tersebut mengirim pesan bahwa akuntabilitas tidak bisa diabaikan.

Di sisi lain, pendukung Israel menyayangkan pilihan komite Nobel. Mereka berpendapat penghargaan itu berpotensi memperkeruh upaya diplomasi yang tengah berjalan untuk meredakan konflik di kawasan.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari komite Nobel yang menanggapi kecaman Israel secara langsung. Komite biasanya menjaga jarak dari polemik politik yang menyusul pengumuman penerima penghargaan.

Yang Ditunggu Setelah Polemik Nobel

Perhatian kini tertuju pada apakah temuan komisi yang dipimpin Pillay akan ditindaklanjuti di forum hukum internasional. Sejumlah negara mendorong agar laporan tersebut menjadi dasar proses lanjutan di Mahkamah Internasional.

Israel diperkirakan tetap menolak setiap langkah yang dibangun di atas temuan komisi itu. Pemerintah Israel berulang kali menyatakan tidak akan mengakui yurisdiksi lembaga yang dinilai tidak netral terhadap kepentingannya.

Bagi publik internasional, polemik Nobel ini menambah panjang daftar perselisihan antara Israel dan lembaga multilateral sejak perang di Gaza meletus. Belum ada tanda kedua pihak akan menemukan titik temu dalam waktu dekat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua