Buku "Kuntilanak Wangi" Ungkap Stigma Politik terhadap Gerwani Pasca 1965 di Diskusi ICW Jakarta
JAKARTA — Buku "Kuntilanak Wangi: The Nightmare Parfume" kembali hadir dalam edisi kedua yang diterbitkan Komunitas Bambu pada 2026. Edisi ini memuat versi bahasa Indonesia dan Inggris sekaligus, hasil terjemahan eks tahanan politik Hersri Setiawan.
Karya ini berawal dari paper Saskia Wieringa yang pertama kali diterbitkan Kalyanamitra pada 1988. Sejak awal, riset Saskia menyorot organisasi perempuan Indonesia sebelum dan sesudah 1965, dengan G30S sebagai titik patahan sejarah.
Mengapa Istilah Kuntilanak Dipakai untuk Memasung Gerakan Perempuan
Kuntilanak dalam khazanah lelembut Nusantara digambarkan sebagai dedemit berkelamin perempuan. Sosoknya menyeramkan, suka mengambil anak kecil, dan mengganggu perempuan yang baru melahirkan. Suaranya pun disebut membuat orang merinding.
Di era Orde Baru, makna itu digeser ke ranah politik. Istilah "kuntilanak wangi" dipakai untuk membatasi gerakan organisasi wanita. Pelabelan itu mendomestifikasi perempuan agar tidak mengulang sejarah Gerwani yang progresif.
"Di dalam masyarakat Indonesia banyak perempuan aktivis yang betul-betul berjuang untuk hak-hak perempuan, tentang seksualitas, tentang perkawinan, dan tentang hal apa saja yang terjadi, mereka disebut Gerwani baru, seolah-olah itu sesuatu yang jelek dan buruk," kata Saskia dalam diskusi bukunya di Rumah ICW, Jakarta Selatan, 23 September 2026.
Penghancuran Gerwani Dimulai Sehari Setelah G30S
Menurut Saskia, penumpasan gerakan perempuan berjalan cepat. Koran-koran berafiliasi militer Angkatan Darat seperti Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha gencar memberitakan kekejaman Gerwani pada malam eksekusi para jenderal di Lubang Buaya.
Dalam pemberitaan itu, aktivis Gerwani yang digambarkan menari tanpa busana disebut bak kuntilanak. Narasi soal penyiletan kemaluan para jenderal pun bertahan dalam memori kolektif masyarakat hingga kini.
"Gerakan perempuan yang sampai sekarang pun masih di bawah bayang-bayang fitnah yang diciptakan oleh Soeharto," sambung Saskia. "Kita harus menghancurkan fitnah-fitnah tentang perempuan, tentang Gerwani, dan mesti mengerti apa yang terjadi. Gerwani memang organisasi yang betul-betul menghubungkan hak-hak perempuan dengan situasi politik. Mereka satu-satunya organisasi yang berhasil memperjuangkan perempuan sampai ke desa-desa, memperhatikan nasib petani perempuan, buruh perempuan, juga bekerja sama kalau ada bencana alam."
Jejak Api Kartini yang Luput dari Pemusnahan Orde Baru
Aktivis perempuan Myra Diarsi menyebut Gerwani berdiri pada 1954 dan menyumbang kontribusi besar bagi gerakan perempuan Indonesia. Organisasi itu menjadi daya lawan sekaligus agensi bagi kelompok perempuan hingga tingkat akar rumput. Jejaknya sendiri jarang diangkat dalam sejarah.
Setelah satu dekade berkiprah, Gerwani dibunuh secara fisik, psikologis, dan ideologis. Meski begitu, dokumentasi perjuangan mereka terekam dalam majalah Api Kartini yang luput dari pemusnahan Orde Baru dan telah didigitalisasi.
"Itu luar biasa sekali bisa memberi gambaran lebih utuh kepada kita bagaimana Gerwani bisa seprogresif dan sekuat itu. Dari situ kita banyak sekali belajar," ungkap Myra, pendiri Kalyanamitra, lembaga swadaya yang memperjuangkan kesetaraan gender.
Kamp Plantungan dan Pendisiplinan Tubuh Perempuan
Pasca 1965, Gerwani menjadi sasaran penumpasan PKI. Organisasi ini diberangus karena dianggap bagian dari PKI yang bertanggung jawab atas G30S. Aktivis dan kader ditangkap, disiksa, bahkan di beberapa daerah di Jawa dikubur hidup-hidup.
Sebagian besar dari mereka lalu dimasukkan ke kamp konsentrasi seperti Penjara Bukit Duri dan Penjara Plantungan. Bertahun-tahun mereka ditahan tanpa pengadilan. Setelah bebas, stigma masih melekat dan mempersulit kehidupan mereka beserta keluarga.
Sejarawan Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan (RUAS), Ita Fatia Nadia, menilai penjara wanita untuk tahanan politik bukan sekadar kamp konsentrasi. Penjara Plantungan secara khusus, kata Ita, menjadi tempat mendisiplinkan seksualitas dan tubuh perempuan.